Tuesday, July 31, 2007

HARIMAU SUMATERA, aku lengkapi ceritamu


Aku pernah mendengar nama sejenis, HARIMAU TAPANULI, sebuah klub sepakbola bagus yang hanya khusus sebagai alat perjudian bos-nya. Kemaren di beberapa page teman2 ada yang menuliskan ttg harimau, khususnya Harimau di Indonesia, awareness akan kepunahan species itu. Kalau mengingat ttg Harimau Sumatera, aku teringat akan kalung kuku dan taring si Raja Rimba yang selalu ada dileherku, dulu. Sekarang bisnis ini sangat menggiurkan, banyak ditemukan bagian tubuhnya di pedalaman Sumatera, malah ada yang mengatakan sebagai obat kuat pria. Padahal, sepanjang yang aku ketahui, Harimau juga termasuk kategori AYAM JANTAN, 30 detik saja sudah keluar...he he he...

Dasar orang Cina, pikirannya kemana-mana saja, ga sehat, mereka inilah yg mendorong terjadinya pembantaian besar2an Harimau Sumatera; dan orang Cina pun bukan termasuk pria perkasa...ayo mana buktinya? Bukannya SARA, tapi ini kenyataan dilapangan kok. Aku ada cerita tentang ini...

ketika itu, seorang anak berusia hampir 7 tahun murid kelas 2 SD, berjalan memasuki rimbunnya belantara pegunungan Bukit Barisan, yang menghampar dari Aceh hingga ke Lampung, bersama seorang pria tua berusia 65 tahun; berbadan tegap; gagah perkasa; muka kasar penuh guratan pengalaman; jari kelingking tangan kirinya patah; ransel kulit tua kesayangan yang telah hampir 40 tahun bersamanya, ada dipunggung belakang; jaket kanvas kumal pemberian seorang yang sangat disayanginya, Bapa Mudanya; dipinggang tergantung sarung kulit kerbau kering belati tua dengan gagang kayu ebony, belati yang mungkin telah berusia hampir 150 tahun, belati dari mutu baja terbaik pemberian seorang sahabat lamanya ketika berkunjung ke Turki, orang Kurdistan, seorang pengawal pribadi juga.

" Bang, aku haus dan lapar, istirahat ya bang?". Pria tua itu menghela dan tersenyum geli, " Ya nak, mari istirahat, masih lumayan jauh perjalanan ini, mari kita habiskan libur sekolahmu". Aneh, si anak malah memanggil pria tua itu abang, padahal dia pantes dipanggil Ayah atau kakek.

Pria itu berkata, " Walau aku jauh lebih tua dari ayah mu, tapi aku memanggilnya Bapa Muda, karena darahnya lebih tua dari darahku, dan adat mengharuskan aku memanggilnya Bapa Muda. Darah yang mengalir didarahmu adalah darah seorang bijak, disegani dan penguasa di sekitar danau tua itu, seseorang yang hidup beratus tahun yg lalu, tapi kharisma dan kebaikan hatinya selalu dihormati dan dikenang. Anak kecil, kamu sebenarnya harus aku panggil abang, karena jika diurut dari si orang bijak itu, darahmu masih lebih tua".

"Bang, kenapa jarimu putus? " tanya si anak kecil itu. "...Ini tidak seberapa anakku, teman-teman lain malah ada yang kehilangan segalanya".

Pria tua itu adalah seorang veteran perang dunia ke-2. Dia pernah bertemu dengan banyak tokoh-tokoh paling penting negeri ini, dimasa itu. Dia adalah seorang pengawal pribadi bagi beberapa BRAHMANA penting negeri ini. Pria tua itu menguasai beberapa warisan penting dari negeri tempat dia dibesarkan, ILMU SILAT, warisan yang harus diturunkan ke generasi selanjutnya. Pria ini sangat misterius, sedikit legendanya di laskar khusus dengan tugas khusus pula. Dia lebih banyak hidup dialam bebas, menjadi simbol Sumatera ketika itu. Pria tua ini adalah seorang pengawal khusus bagi Agus Salim, Soekarno (ketika dibuang ke Sumatera dan berkunjung ke luar negeri), Oerip Soemoharjo, Bung Hatta (idem), Liberti Manik, Syarifuddin Prawiranegara(idem) dan terakhir Tan Malaka. Dia juga termasuk perintis berdirinya Kopasus sekarang, sejak diberdirikan oleh seorang desertir Belanda yang membelot membela Indonesia. Dia juga seorang teman baik bagi komandannya, Slamet Riyadi.

Dia ini sangat ditakuti oleh Marsoese, Kempetai, dan pasukan terbaik Jenderal Besar Douglas Mac Arthur ketika merebut Surabaya, Gurkha. Mereka lah yang menghancurkan Sekutu di Surabaya, kelak dikenal sebagai pertempuran legendaris di Jembatan Merah Soerabaya, 10 november 1945. HANTU ini hampir ada disemua pertempuran hebat yang pernah dilakukan TNI. Dia bersama dengan temannya adalah HANTU. Namanya ada tapi orangnya ga pernah nongol. Dia dan temannya adalah pasukan perintis, infantrinya infantri yang pertama meng-infiltrasi benteng-benteng Belanda, jika melakukan serangan gerilya. Soedirman dan Nasution mengetahui keberadaan mereka, tapi tidak tahu orang-orangnya. Mereka ini bisa menembus ketatnya Pangkalan Angkatan laut militer Belanda di Cirebon, kelak dikenal sebagai hari sucinya pasukan khusus Indonesia. Mereka ini bisa berkeliaran leluasa disela-sela tembakan peluru Belanda, sambil meledakkan instalasi militer penting Belanda itu. Namanya terkenal karena pernah sebagai 2 orang dari 100 orang pejuang kita, yg selamat hidup-hidup dari gempuran hebat Jepang, berkekuatan 340 orang pasukan berani mati terbaik Nipon, semuanya mati di medan perang itu, sebuah pertempuran dahsyat yang dilupakan.

Mereka memasuki rimba itu. Segera menyiapkan tempat berkemah dan beristirahat. Anak kecil itu kaget karena mereka tinggal di pohon, ga seperti dalam bayangannya selama ini. " Gila nih orang tua, seperti kera saja lincahnya".

Bekal yang dibawa tidak banyak, hanya berupa bumbu, tali, ramuan obat-obatan dll. Tidak ada makanan siap kunyah. Si anak kecil hanya pasrah saja, dia tahu dia berada ditangan orang yang bertanggung jawab dan aman.

Orang tua si anak kecil ini pun tidak melarangnya ketika anak itu diajak pelesir, " PELESIR YANG ANEH".

Dia mengajarkan anak kecil itu banyak sekali ilmu-ilmu survive dihutan rimba, seperti kakak sulungnya, yang membuat dia pernah menjadi HANTU. Dia juga mengajarkan banyak pengetahuan tentang keberagaman hayati di alam Sumatera. Ketika itu, dia mengajak anak kecil itu ke air mata yang cukup jauh dari pohon tempat mereka tinggal. Anak kecil itu tersenyum geli, karena di ajarkan membuat rumah pohon seperti dalam dongeng yang sering dibacakan mama nya. Yang namanya anak kecil, ketika ketemu air terjun dan telaga kecil, langsung saja nyebur untuk berenang dan bermain. Anak itu tidak mengetahui kalau sumber air itu adalah milik semua mahluk hidup yang ada di hutan itu.

Ada beberapa ular yang ditemukannya disana, tapi karena didikan si pria tua itu dulu, anak itu dapat mengatasinya, " Ingat nak, ular pernah di sebutkan sebagai ibu yang melahirkan orang yang menjadi leluhur kita, jangan di bunuh kecuali dia berniat tidak baik, ambil kayu, atau biarkan dia berlalu".

Anak kecil itu sangat meresapi semua wejengan orang tua itu, Orang tua yang tidak memiliki putra, hanya seorang putri yang telah berkeluarga juga, dan tinggal jauh diseberang pulau sana, pulau yang juga menjadi kenangannya, kala menjadi HANTU MOMOK bagi penjajah, dan sobat karib beberapa pejuang dan HANTU lainnya juga penduduknya, JAWA.

Tanpa disadari si anak, yang senang bermain di telaga kecil itu, ada seekor Harimau jantan berekor pendek datang mendekat, mungkin untuk minum atau untuk mencari mangsa. Si anak kontan ketakutan, karena telaga kecil itu dalamnya hanya selutut si anak tadi. Segera anak itu berlari ketepian lainnya, mendekati orang tua yang menjadi pelindungnya.

Anak itu ingat satu hal, " Jangan berlari jika bertemu dengan OMPUNG (sebutan untuk Harimau), karena jika kamu berlari, berarti dia akan menganggap kamu sebagai mangsanya".

Anak itu pun segera menyadarinya, posisi si orang tua itu agak lumayan jauh darinya, sedang mengumpulkan daun2 untuk dijadikan ramuan obat baginya sendiri. Segera si anak itu berbalik badan dengan telanjang bulat, (maklumlah dihutan dan dia kan masih anak-anak) menatap kearah si Harimau jantan tadi, HARIMAU SUMATERA. Anak itu menatap penuh kegarangan, segera mengambil belati pendeknya dan menghunuskannya didepan dada. Anak itu terdiam menunggu reaksi si harimau itu.

Harimau itu segera membalas tatapannya, mungkin berpikir, " Siapa anak ini berani menatap mataku? Dia tidak takut. Anak ini tidak ketakutan seperti yang lainnya".

Tapi yang namanya Raja Hutan, dia merasa dialah yang berkuasa disana, dialah HARIMAU SUMATERA. Dia segera mendekati anak itu, memasuki telaga itu. Tingginya hampir sama dengan anak itu.

Sementara di tempat lain, seorang pria tua, entah bagaimana caranya, telah 'terbang' melompat dari satu batu ke batu yg lainnya. Hitungan detik dia telah ada disamping si anak. Pria tua itu pun segera menghunuskan belati tuanya. Berbicara kepada si harimau, entah apa yang mereka bicarakan, yang satu menggeram dan mengaum yang satu lagi berbicara dalam bahasa manusia. Sementara si anak sudah jiper, karena mimpi buruk itu bukan saja didalam dongeng yang selalu diceritakan mamanya dan istri pria tua itu.

Harimau itu mendekat karena ternyata si anak telah mendekat pula," Gila nyali nih anak kecil".

Pria tua pun menyadarinya, dia segera melangkah didepan anak itu melindunginya. Pria itu membuka jaket lusuhnya, dengan terlebih dulu meletakkan ransel tuanya. Melangkah mendekati kearah harimau itu. Hitungan menit-an telah terjadi perkelahian sengit dan hebat antara si pria melawan harimau itu. Tidak beberapa lama, terlihat ceceran darah dari keduanya, dan anak itupun menjerit sambil menangis, mendekati si harimau sambil menikamnya berkali-kali didada dan di mulutnya yang sedang mengigit lengan si pria tua. Harimau itu telah tergeletak karena belati pria tua itu sangat tajam sekali, konon besi pun bisa dipotong belati itu, agaknya tulang yang melindungi perut dan jantung si harimau itu koyak dan patah ditebas belati Turki itu. Si pria tua itu pun tergeletak kesakitan, begitu dia menyadari Harimau Sumatera itu telah bersimbah darah. Harimau Sumatera itu tewas ditangan HARIMAU SUMATERA.

Anak itu, yang baju dan badannya telah bersimbah darah, segera memanggul pria yang dikasihinya itu, menuntunnya ke rumah pohon mereka. Segera mengobati pria tua itu dengan ramuan yang dibawa, tentu dengan bimbingannya. Menjelang Asar, pria tua itu telah kembali dari telaga membawa seonggok daging yang telah dikuliti, bangkai harimau itu. Malam itu mereka menyantap bangkai harimau itu, sebagian ada yang dipotong kecil untuk dibawa pulang. Kuku dan taringnya di preteli untuk dijadikan barang pribadi pria tua itu.

Anak itu terbangun ketika si pria tua itu telah memotong-motong bangkai itu, dalam hatinya, " Ini kan pertarungan untuk bertahan hidup, jadi bukan untuk membunuh karena dendam atau maksud lainnya. daging itu juga untuk dimakan kok, jadi ga akan salah dan disalahkan".

Taring dan kuku itu kelak, disepuh dan diubah menjadi sebuah kenangan oleh pria tua itu.

KALUNG DAN TARING ITU LAH YANG SELALU MEGHIASI LEHER KU, AKULAH ANAK KECIL DICERITA. SEKARANG HARIMAU SUMATERA ITU JUA TELAH KEMBALI BERPULANG KEPADA PENCIPTANYA. NAMUN AJARAN DAN WEJENGANNYA SELALU BERSEMAYAM DIDALAM HATIKU. KELAK TARING ITU AKU BERIKAN KEPADA PUTRI TUNGGAL SI HARIMAU SUMATERA. SEMUA DIKELUARGAKU MENDAPATKANNYA. TAPI KALUNG KUKU ITU, ADALAH KUKU YANG PERNAH MELUKAI TANGANKU KETIKA AKU MENIKAM HARIMAU ITU. KALUNGKU ITU ADALAH PEMBERIAN HARIMAU SUMATERA KHUSUS DIKERJAKAN OLEH TANGANNYA SENDIRI UNTUK AKU DAN PAPAKU, ORANG-ORANG YANG DIKASIHINYA DISAMPING ISTRI DAN PUTRI TUNGGALNYA.

Tuesday, July 24, 2007

BIOGRAPI MULTATULI


Multatuli adalah nama samaran Eduard Douwes Dekker. Sr, lahir tahun 1820 di Amsterdam. Berasal dari keluarga Protestant sederhana. Dia dikirim ayahnya sekolah pendeta tahun 1832 di Latinje School, tidak selesai kemudian dia mencoba bekerja tapi di-PHK. Ayahnya yang kapten kapal mengantarnya ke Hindia Belanda ketika berusia 18 tahun, bekerja di Dewan Pengawas Keuangan di Batavia. Amtenaar muda ini walau berprestasi dalam kerja, harus meninggalkan pekerjaan karena stress berat diputuskan seorang gadis Catholic, Caroline Versteegh. Sifat royal karena masa kecil yang kekurangan, menjadi penyebab ayah gadis londo itu menolak pinangannya.

Tahun 1842, meminta dipindahkan ke Sumatera Barat yang masih ada pergolakan, dibawah pimpinan Jenderal Michiels, bulan Juli 1842, dia ditempatkan di Natal sebagai kontrolir, jabatan yang menyibukkan dan harus banyak bertemu dengan penduduk setempat. Setahun kemudian dia dipecat Jenderal itu karena administrasi keuangan jebol, di Padang Hulu, dia di tahan rumah-kan, dan dipaksa mengganti kerugian itu. Setahun kemudian dia kembali ke Batavia, tahun berikutnya ditugaskan di gubernemen Kerawang, Bagelan, Menado dan tahun 1851 menjadi asisten residen di Ambon, tapi dia sakit keras kemudian. Dia menikahi Everdine Huberte van Wijnbergen alias Tine.

Tahun 1852 dia kembali ke Belanda untuk cuti pertama, dan memperoleh anak pertama. Sifat borosnya selalu menyebabkan kesulitan baginya. Mei 1855 dia sekeluarga kembali ke Hindia, diterima Gubernur Jenderal Duymer van Twist, ditugaskan ke Lebak, Banten, sebagai asisten residen. Dia sangat mencintai bumiputera. Setelah cukup adaptasi dengan Rangkas Bitung, dia mulai membongkar kasus-kasus juga menemukan banyak kesewenangan dan penindasan dari Bupati, Demang (menantu bupati). Ternyata pejabat sebelumnya juga tertendang karena mencoba membongkar kasus itu. Kesulitan menemukan bukti-bukti yang bisa membongkar kasus itu. Ketika tanam paksa telah berlaku diseluruh Hindia Belanda. Dalam sistem pemerintahan ketika itu, residen hanya sebagai atasan para menak, namun tidak punya akses ke masyarakat.

Bupati Lebak Raden Adipati Karta Nata Nagara bersama menantunya, Demang Parangkujang sangat sewenang-wenang, sampai untuk membersihkan pekarangan kediaman mereka saja mengambil penduduk dari berbagai desa, sementara pemerintahan kolonial sangat keberatan karena jumlah pekerja itu dibutuhkan untuk tanam paksa. Hal ini dilaporkan ke atasannya Residen Brest van Kempen, yang kemudian diteruskan ke Gubernur Jenderal. Apa dinyana, dia malah ditegur dan dianggap tidak becus. Multatuli sangat marah karena reaksi yang tak sesuai dengan apa yang dibayangkannya, Dia mengajukan pengunduran diri, dan diluluskan. Setelah dia pergi, kasus di bongkar dan semua kaki tangan penindas dari bupati diberhentikan dengan tidak hormat. Orang jujur ini sangat mencintai keadilan walau dia juga seorang boros.

Sebenarnya kasus tersingkirnya Multatuli adalah akibat dari sistem dualisme kekuasaan antara bupati dengan residen, penggantian seorang bupati dapat menimbulkan gejolak baru, sementara itu pemerintah Hindia sedang mengalami defisit keuangan karena perang melelahkan dengan Pangeran Diponegoro dan kaum paderi. Sementara menurut tata pemerintahan dan pergaulan di Lebak kala itu, cara Multatuli memulangkan pekerja-pekerja yang membersihkan pekarangan rumah bupati dianggap kurang ajar oleh norma-norma di Jawa.

April 1857, Dekker sendiri kembali ke Eropa, tahun 1859 keluarganya menyusul. Di suatu losmen di Brussel, dia menuliskan kasus itu kedalam sebuah buku, sebagai protes, Max Havelaar (Aku telah banyak menderita). Dwi fungsi dari buku itu adalah untuk diakhirinya pemerasan dan dikembalikan kehormatan rakyat jelata di Jawa; dan nama baiknya dipulihkan.

Penerbit yang sangat terkenal kala itu Jacob van Lennep telah menduga buku itu adalah sebuah mahakarya, tapi disimpan dan diterbitkan pelan karena takut mengguncang, makanya semua nama tempat, angka tahun diganti dengan tanda baca titik-titik. Mei 1860 buku ini menjadi best- seller di Eropa walau lambat diterima masyarakat disana. Dia yang telah menjadi pujangga besar, kemudian mengeluarkan buku lain seperti Minnebrieven (surat-surat cinta); Wouterje Pieterse ( sejarah masa kecil) dan Ideen.

Dalam Ideen, Multatuli bersuara keras: melawan kesewenang-wenangan; pembelaan terhadap kaum teraniaya; kritik keras terhadap kekuasaan agama, adat dan politik, yang sering kali disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Dekker membela buruh industri, mempertanyakan dogma agama yang disetir, emansipasi kaum wanita dan adat kesopanan yang dibungkus dengan keindahan tapi busuk didalamnya. Bagi Multatuli, martabat manusia harus sama, “ panggilan manusia ialah mewujudkan sebagai manusia”.

Dia tidak akrab dengan keluarganya, sampai istrinya Tine wafat tahun 1874, kemudian dia menikah lagi dan tinggal di Nieder-Ingelheim, Jerman dan wafat disana 18 Februari 1887.

Orang ini banyak menggunakan keuangan pemerintahan kolonial di Natal dan Padang untuk membantu bumiputera. Menyumbang dana juga dari kantung pribadi untuk kemajuan pendidikan di madrasah dan pesantren. Dekker banyak membantu perselisihan dan persengketaan antar pribumi dengan sesama pribumi, pedagang/saudagar bangsa lain dan pemerintah kolonial. Tentu saja pucuk pimpinan sangat berang dengan cara yang dilakukan oleh Multatuli. Keterpihakannya kepada bumiputera menjadi bumerang yang menghancurkan karir gemilangnya di pemerintahan kolonial Belanda.

Sedikit tidaknya jasa Multatuli, beberapa pihak dimasa silam yang tersamar, menganggap kegemilangan idenya, membantu menjadikan ranah Minangkabau dan Mandailing, pemasok tokoh-tokoh perintis dan penggerak berkaliber hebat, yang kelak sangat menentukan nasib Hindia Belanda. Bisa disebutkan nama-nama seperti: Kyai Hai Ahmad Dahlan, Agus Salim dll yang diteruskan generasi Datoek Tan Malaka dsb kemudian lahir lagi angkatan Moehammad Hatta, Soetan Syahrir, Moehammad Yamin, Mr. Moh. Roem, Syarifoeddin Prawiranegara, Soetan Takdir Alisjhabana, HB Yassin dll. Mereka ini adalah 'buah' dari 'biji' yang ditabur oleh Multatuli. Ini merupakan benang merah yang selalu dicoba dihilangkan dan dilupakan. Mungkin karena Mutatuli bukan orang Indonesia asli, bukan Muslim dan mewakili kaum penjajah.

Sistem kerja tanam paksa (Culturstelsel) yang kala itu diberlakukan, terang-terangan dibencinya. Sistem tanam paksa adalah pemerasan yang terkeji dari penjajah kepada bumiputera dengan memaksakan tiap orang untuk menanamkan beberapa jenis tanaman komoditas, yang kala itu sangat tinggi sekali harganya di pasar dunia. Komoditas ini antara lain: kopi, teh, cengkeh, pala, tembakau, kakao dsb. Setiap pribumi Hindia Belanda diwajibkan untuk menyediakan sebagian lahannya menanam komoditas tersebut atau menjadi buruh kerja di lahan yang disediakan oleh kolonial. Setelah itu, bumiputera baru dipersilahkan mengurusi perut sendiri. Sistem ini dianggap penghisapan yang paling keji, dan sangat tidak ber-perikemanusian dari bangsa yang merasa paling beradab dan mengaku mengikuti cinta-kasih Kristus.

Melalui bukunya Max Havelaar, Multatuli membongkar perilaku busuk penjajah Belanda di muka umum. Bola liar yang dilemparkan Multatuli melalui Max Havelaar, kelak merubah cara pandang penjajah Belanda pada khususnya dan dunia pada umumnya terhadap bumiputera. Pemerintah kerajaan Belanda sangat tertampar dengan perang pena ini. Bumiputera tidak lagi dianggap sebagai kasta yang lebih rendah dari binatang di negerinya sendiri. Efek dari bola liar yang dilempar oleh Multatuli juga dirasakan oleh negara-negara lain yang terjajah, seperti di Asia dan Afrika. Di Afrika Selatan lahir kaum de Boer.

Kelak lahirlah suatu aksi balas budi yang dicetuskan di Belanda, kelak dinamakan Politik Etis. Kaum bumiputera diberikan kesempatan, walau awalnya dari kaum menak dan berduit, untuk merasakan pendidikan. Tapi bangsa Indonesia patut berterima kasih kepada Multatuli atas jasanya ini. Karena dengan dibukanya keran itu, lahirlah kelak tokoh-tokoh hebat yang menjadi pelopor; Setelah dibukanya sekolah dokter STOVIA, antara lain: Dr. Wahidin Soediro Hoesodo, dr. Goenawan, R.A Kartini, R.M. Tirto Adhi Soeryo, Cipto Mangoenkoesoemo, H.O.S. Cokroaminoto, Haji Samanhoedi, Ki Hajar Dewantoro, Dewi Sartika, Iwa Koeseoma Soemantri dll. Dari pelopor ini lahir lagi tokoh-tokoh lainnya yang tak kalah dahsyatnya seperti : Ir. Soekarno, Sartono, Siti Soendari R.D, Mr Soepomo dll.

Diseluruh kota-kota di pulau Jawa atau Sumatera dan pulau-pulau lainnya, jarang sekali kita temukan nama jalan yang diambil dari nama besarnya. Bahkan nama gedung atau tempat prestisius bangsa Indonesia tidak ada yang memakai nama Multatuli, jasanya terkesan dilupakan dan hilang perlahan. Di Bandung ada nama jalan dr. Sethiaboedi, nama yang diambil dari putranya Multatuli. Nama yang digunakan putranya sebagai nama baptis baru setelah memilih jadi bumiputera. Selayaknya, namanya diletakkan disuatu tempat terhormat, untuk mengenang nama Multaltuli, agar generasi yang akan datang tahu, bahwa sebenarnya Indonesia adalah bangsa yang tahu cara berterima kasih, walau telah terlambat. Edward Douwes Dekker Sr, alias Multatuli wajar mendapat bintang jasa dari pemerintah Indonesia, walau dia 'orang asing', tapi dalam darah, hati dan tulangnya...ada Indonesia, semoga...Amien!

Wednesday, July 18, 2007

SeLaMaT HaRi aNaK!


UnfORgOtten fRoM Mind

KaLau aku JeLaJaHi Hatiku dan ingat Yang LaLu

Kadang aku Suka cengeng, menangiS? SuSaH

Tak biSa diucaPkan dengan kata

KaRna Semua teLaH Lewat, SungguH Rindu, SePi


KaLau teRingat Sobat-Sobat keciL duLu

Teman-teman SRPeRmainan daLam canda tawa

Ketika cinta dan cita maSiH bak udaRa

Teman beRmain beRSama ketika keciL


Kini aku JauH di tanaH Rantau

TanaH keLaHiRan-Pun teLaH Lama kutinggaLkan

Namun Hati tak biSa meLuPakan daRi benak

AtaS Semua kenangan teRindaH SemaSa keciL


OH...angin SaHabat, toLong SamPaikan PeSan

Ke Semua SaHabat ciLik-ku : dimana kaLian SekaRang?

Tidak mungkin, Jika maSiH biSa SePeRti duLu

Semoga TUHAN meLindungi kita Semua...amien!



Monday, July 16, 2007

TOS DULU LAH GELAS KITA NIH !


Ketika itu aku baru nyampe di Bandung. Dah lama ga ketemuan teman senasib, makanya aku langsung menggunakan motor matik kesana setelah menculik teman lain dari proyeknya. Kami berangkat ke Bandung Indah Plaza (BIP) untuk menculik teman yang sedang kerja di proyek renovasi BIP. Tanpa perlawanan berarti, mereka aku giring ke gerai Sturback Coffee. Langsung saja aku pesan, dan mereka pun ngaku kalau jarang sekali bertemu sebelumnya. Kasihan, padahal sama-sama di Bandung. Langsung aja deh mereka curhat dari soal kerjaan, negara, musik, kampus, nostalgia sampai ke inti pembicaraan, cewek. Nah disini ini yang menjadi masalah. Teman yang kerja di BIP merasa jarang ke cafe ini. Alasannya mahal dan terlalu elit, masa segelas kopi di gerai ini bisa dia beli sekresek kopi.
Langsung aja temanku kotbah. Dibawah ini adalah kutipan kotbahnya:
“...Sejarah kopi dari sekitar abad 9, di Ethiopia menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad 15, menjangkau Persia , Turki dan Afrika. awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Tahun 1511, karena efek rangsangannya dilarang para imam konservatif othodoks di Mekah. Tetapi karena popularitas minuman ini, larangan tersebut tahun 1524 dihilangkan oleh Sultan Selim I, Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, juga tahun 1532.....”
Ini sih katanya; terserahlah, aku mau seruput kopi dulu...hmmmm...passss!
Dia langsung lanjut lagi kotbah setelah tentunya menyeruput gelasnya juga:
“...Dari Arab, kopi menyebar ke Eropa, menjadi populer abad ke-17. Orang Belanda-lah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan menyelundupkan bijinya tahun 1690, karena tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa, oleh Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; hal ini didasari menurunnya persediaan teh oleh pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad 19, menyusul terjadinya perang tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat. Ada 2 spesies besar dari tanaman kopi:
Arabica adalah kopi tradisional, dan dianggap paling enak rasanya. Kopi Arabika biasanya dinamakan oleh dermaga tempat diekspor, 2 tertua adalah Mocha dan Jawa. arabika di Indonesia ditanam di Aceh, SumateraUtara, Sulawesi Selatan, Bali, dan NTT. Kopi arabika hanya ditanam sebagian kecil petani. Padahal, harga kopi arabika di pasar dunia tetap tinggi. Kopi arabika ditentukan oleh bursa kopi di NewYork.
Coffee canephora (Robusta) mempunyai kandungan Kafein lebih tinggi dan boleh ditanam dikawasan yang tidak sesuai arabica. Mendorong penggunaannya sebagai ganti murah bagi arabica dalam perdagangan. Robusta mutu tinggi digunakan sebagai bahan campuran espresso, untuk cost yang lebih rendah. Di Italia, kebanyakan espresso menggunakan Robusta digoreng garing (dark roasted). Robusta biasanya tidak dinikmati sendiri, karena rasanya yang pahit dan asam. Umumnya petani di Indonesia menanam kopi robusta, harganya rendah. Di pasar dunia saat ini kopi robusta sedang membanjiri pasaran, terutama kopi robusta produksi Brasil dan Vietnam. Kopi jenis ini umumnya ditanam petani di Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan. Satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah sejenis robusta di Indonesia yang dinamakan kopi luwak (Common Palm Civet). Kopi ini dikumpulkan dari kotoran luwak, yang proses pencernaanya memberikan rasa yang unik. harga robusta ditentukan oleh bursa kopi di London.
Kopi biasanya minuman dihidangkan panas, dan dari biji dari tanaman kopi yang dipanggang atau digoreng. Kopi merupakan sumber utama cafein. Walaupun tidak diketahui ramai, sebagian kopi bertambah baik mutunya dan nikmat jika semakin berumur, asemnya berkurang. Beberapa produsen menjual biji kopi yang telah disimpan selama 3 tahun, bahkan beberapa kedai khusus menyimpannya 8 tahun. Proses pengorengan adalah penting bagi menghasilkan segelas kopi yang berperisa. Apabila digoreng, biji kopi hijau mengemban, bertukar warna dan padat, warna bertukar menjadi kuning dan kemudian perang "kayu manis" lembut. Saat pengorengan, minyak kelihatan pada permukaan biji kopi. Biji kopi semakin gelap sehingga pemanasan dihentikan...”. Akhirnya teman ini selesai kotbahnya.
Maaf kalau agak gantung, karena hanya itu yang aku ingat.
Kalau yang ini siraman rohani dari teman lainnya:
“...Air yang digunakan untuk pembuatan kopi harus bersih, direbus matang. Jika menggunakan coffee maker, sebaiknya di cuci bersih, agar ampas yang tersisa tidak mempengaruhi aroma dan menambah rasa asem. Ada berbagai macam cara pembuatan, dari Sabang hingga Merauke, Banda Aceh hingga NewYork, atau Kutub Selatan hingga Kutub Utara. Di Indonesia, segelas kopi buatan Sumatera yang alami, masih yang terbaik. Kopi yang telah halus dimasak dengan rebusan air, kadang ditambahkan dengan kayu manis dan rempah-rempah lainnya. Ada juga yang mencampur bubuk kopi dengan sedikit cengkeh. Gula putih juga kadang digantikan dengan gula merah. Jika direbus, sebaiknya kopi dan airnya ditutup sejak direbus hingga kira-kira 3 menit setelah api dimatikan. Uap dari perebusan kopi jangan sampai keluar dari wadah rebusan. Kopi akan merata, ampasnya akan mengendap dibagian bawah wadah perebusan.
Hmmmm..nikmat lah...tapi hati-hati! Ga semua orang bisa meminumnya, karena minuman ini sajian para Dewa dan Dewi. Segelas kopi adalah teman yang paling nikmat buat orang yang suka begadang, melamun, atau surfing internet; ditambah dengan keletak bunyi bakaran tembakau. Ada seorang tetanggaku, ketika aku masih SD, meninggal karena kopi. Jika giginya tidak kuning oleh kopi, berarti dia belum ngopi...ini mah edan..jangan di ikutin, jangan-jangan kencingnya juga darahnya telah hitam. Cukup 2x sehari, pagi & sore...”

Sayangnya, Raja Dangdut Haji Rhoma Irama lupa memasukkan 1 kata lagi dalam tembang hits nya, “....BEGADANG JANGAN BEGANDANG..KALAU TIADA ARTINYA...”. Seharusnya Bang Haji menambahkan “...BEGADANG BOLEH SAJA JIKA SAJA ADA KOPINYA...” Ha Ha Ha Ha! Ini pendapat aku sendiri kok, dalam hati!

PS: jika anda minum kopi, dan rasanya cocok di lidah, menambah gairah, berarti hormon adrenalin ikut terpacu, dan ada kehangatan dada, tolong bisikan magic word ini ....PASSS!!!